CARA MENILAI KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI DI KELAS KIMIA
PENGERTIAN
BERFIKIR
Berpikir secara umum didefinisikan sebagai suatu proses
kognitif, suatu aktivitas mental untuk memperoleh pengetahuan (Presseisen dalam
Costa, 1985). Berpikir adalah memanipulasi data, fakta dan informasi untuk
membuat keputusan berprilaku (Dharma, 2008). Aktivitas mental dalam perasaan
dan pemahaman tergantung pada perangsangan dari luar dalam proses yang disebut
sensasi dan atensi (Semiawan, 1990). Proses mental yang lebih tinggi yang
disebut berpikir terjadi di dalam otak.
Berdasarkan prosesnya berpikir dapat
dikelompokkan dalam;
- Berpikir dasar
Proses berpikir dasar merupakan gambaran dari proses
berpikir rasional yang mengandung sejumlah langkah dari yang sederhana menuju
yang kompleks. Aktivitas berpikir rasional meliputi menghafal, membayangkan,
mengelompokkan, mengorganisasikan, membandingkan, mengevaluasi, menganalisis,
mensintesis, mendeduksi dan menyimpulkan (Novak, 1979).
- Berpikir Kompleks
Berpikir kompleks disebut sebagai
proses berpikir tingkat tinggi yang terdiri dari berpikir kritis, berpikir
kreatif, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Costa, 1985).
PENGERTIAN HOTS (HIGHER
ORDER THINKING SKILL)
Keterampilan
berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order
Thingking Skills (HOTS) pada Taksonomi Bloom, merupakan urutan
tingkatan berpikir (kognitif) dari tingkat rendah ke tinggi. Pada ranah
kognitifnya, HOTS berada pada level analisis, sintesis dan evaluasi. HOTS
pertama kali dimunculkan pada tahun 1990 dan direvisi tahun 1990 agar lebih
relevan digunakan oleh dunia pendidikan abad ke-21. HOTS versi lama berupa kata
benda yaitu: Pengetahuan, Pemahaman, Terapan, Analisis, Sintesis, Evaluasi.
Sedangkan HOTS setelah direvisi menjadi kata kerja: Mengingat, Memahami,
Menerapkan, Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta. HOTS (Higher Order
Thinking Skill) adalah Kemampuan berpikir
yang tidak sekadar mengingat, menyatakan kembali, atau merujuk tanpa
melakukan pengolahan. Adapun
karakteristik dari HOTS sebagai berikut:
1. Mengukur
kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek
ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, menciptakan
metode baru, mereflksi, memprediksi, berargumen, mengambil
keputusan yang tepat;
2. Berbasis
permasalahan kontekstual;
3. Menggunakan
bentuk soal beragam.
Soal-soal
HOTS merupakan instrumen pengukuran
yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu
kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate),
atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite).
Soal-soal HOTS pada konteks asesmen
mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan
menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang
berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5)
menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang
berbasis HOTS tidak berarti soal yang
lebih sulit daripada soal recall.
Dilihat
dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif,
tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural
saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep
yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving),
memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru,
berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
Dimensi
proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh
Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui
(knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3),
menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi
(creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah
menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi
(creating-C6).Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan
indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.Sebagai
contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3.
Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada
pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului
dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu
peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja
‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi)
bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru.
Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses
berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
Pada
penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus.Stimulus merupakan dasar
untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya
bersifat kontekstual dan menarik.Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global
seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan
infrastruktur.
Stimulus juga dapat diangkat dari
permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan
seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang
terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi
kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.
Keterampilan berpikir
tingkat tinggi dalam kimia
Berfikir
Kritis dalam kimia adalah berfikir
yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau
masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan
menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan
pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak
dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang
diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam
sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir
kritis. Misalnya siswa melakuakan percobaan mengenai materi asam basa,
dengan bahan air jeruk dan air sabun. Dari percobaan siswa diharapkan dapat
menentukan karakteristik asam basa dari kedua bahan yang digunakan berdasarkan
hasil percobaan yang didapat dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah
diperoleh pada pembelajaran sebelumnya. Siswa
dapat menilai bahwa air jeruk adalah salah satu contoh asam dan air sabun
adalah contoh dari basa. Hal ini dapat diketahui dari sifat air jeruk yang
dapat mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah dan mengubah warna kertas
lakmus merah menjadi biru dari hasil percobaab yang telah dilakukan.
Berfikir
Kreatif dalam kimia
sifatnya orisinil dan
reflektif. Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang
kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide,
menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berfikir kreatif
meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menghasilkan akhir
yang baru. Misalnya, dalam praktikum menentukan suatu senyawa asam ataupun
senyawa basa, siswa dapat membuat indikator alami dari ekstrak tumbuh-tumbuhan
sebagai pengganti indikator sintesis yang ketersediaannya terbatas.
Pemecahan masalah dalam kimia adalah berfikir yang
memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau
masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan
menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan
pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak
dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang
diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam
sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis.
Menyimpulkan konsep dalam kimia yang sifatnya orisinil
dan reflektif. Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang
kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide,
menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berfikir kreatif
meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir
yang baru.
Menganalisis dalam
kimia
Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu
informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan
keterhubungan antara satu kelompok/informasi atau menguraikan suatu materi
menjadi komponen-komponen yang lebih jelas.
Mengevaluasi dalam
kimia
Kemampuan menilai suatu benda atau informasi berdasarkan
suatu kriteria(menilai suatu ide, kreasi, cara, atau metode).
Mencipta atau
menyusun konsep dalam kimia
Membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil
tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan
untuk membentuknya.
-
Perhatikan cakupan materi kimia yang diharuskan
untuk tiap jenjang SMP atau SMA (kurikulum kimia).
-
Perhatikan beberapa kompetensi yang terkait dengan HOTS dan
diturunkan menjadi indicator dan tujuan sesuai dengan karakteristik HOTS kimia.
-
Menggunakan hukum dasar kimia pengetahuan atau
kemampuan dasar nya untuk menyesaikan permasalahan yang ada kaitannya
dengan kimia.
-
Dianjurkan untuk menyediakan berbagai macam
data kimia (kualitatif, tabel, grafik, hasil dari percobaan yang
dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil observasi, dll) sebagai stimulus untuk
menjawab soal-soal HOTS.
-
Berbagai macam data kimia yang disediakan seharusnya
memberikan informasi kepada siswa merujuk kepada hokum dasar kimia sehingga
dapat diolah lebih lanjut.
-
Menulis contoh soal HOTS tentang kimia.
1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
The
Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan
proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan
konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat
tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang.Dengan
demikian, jawaban soal-soal HOTS
tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk
kemampuan untuk memecahkan masalah (problem
solving), keterampilan berpikir kritis (critical
thinking), berpikir kreatif (creative
thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil
keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah
satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap
peserta didik.
Kreativitas
menyelesaikan permasalahan dalam HOTS,
terdiri atas:
a.
kemampuan menyelesaikan permasalahan yang
tidak familiar;
b.
kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan
untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
c.
menemukan model-model penyelesaian baru yang
berbeda dengan cara-cara sebelumnya.
‘Difficulty’
is NOT same as higher order thinking. Tingkat kesukaran dalam butir soal tidak
sama dengan kemampuan berpikir
tingkat tinggi. Sebagai contoh, untuk mengetahui arti sebuah kata yang tidak
umum (uncommon word) mungkin memiliki
tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk menjawab
permasalahan tersebut tidak termasuk higher
order thinking skills.Dengan
demikian, soal-soal HOTS belum tentu
soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran
yang tinggi.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat
dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik
memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga
memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan
berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik
untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.
2. Berbasis permasalahan kontekstual
Soal-soal HOTS
merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari,
dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di
kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh
masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian
dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana
keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete),
menerapkan (apply)dan
mengintegrasikan(integrate) ilmu
pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam
konteks nyata.
Berikut
ini diuraikan lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
a.
Relating,
asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
b.
Experiencing,
asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration),
penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
c.
Applying,
asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam
kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
d.
Communicating,
asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
e.
Transfering,
asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas
ke dalam situasi atau konteks baru.
Ciri-ciri
asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen autentik, adalah sebagai
berikut.
a.
Peserta didik mengonstruksi responnya sendiri,
bukan sekadar memilih jawaban yang tersedia;
b.
Tugas-tugas merupakan tantangan yang
dihadapkan dalam dunia nyata;
c.
Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya
memiliki satu jawaban tertentu yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban
benar atau semua jawaban benar.
3. Menggunakan bentuk soal beragam
Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam sebuah perangkat tes (soal soal HOTS) sebagaimana yang digunakan dalam PISA, bertujuan agar dapat memberikan
informasi yang lebih rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes. Hal
ini penting diperhatikan oleh guru agar penilaian yang dilakukan dapat menjamin
prinsip objektif.Artinya hasil penilaian yang dilakukan oleh guru dapat
menggambarkan kemampuan peserta didik sesuai dengan keadaan yang
sesungguhnya.Penilaian yang dilakukan secara objektif, dapat menjamin
akuntabilitas penilaian.
Terdapat
beberapa alternatif bentuk soal yang dapat digunakan untuk menulis butir soal HOTS (yang digunakan pada model
pengujian PISA), sebagai berikut.
a. Pilihan ganda
Pada
umumnya soal-soal HOTS menggunakan
stimulus yang bersumber pada situasi nyata.Soal pilihan ganda terdiri dari
pokok soal (stem) dan pilihan jawaban
(option).Pilihan jawaban terdiri atas
kunci jawaban dan pengecoh (distractor).Kunci
jawaban ialah jawaban yang benar atau paling benar.Pengecoh merupakan jawaban
yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang terkecoh untuk memilihnya
apabila tidak menguasai bahannya/materi pelajarannya dengan baik.Jawaban yang
diharapkan (kunci jawaban), umumnya tidak termuat secara eksplisit dalam
stimulus atau bacaan. Peserta didik diminta untuk menemukan jawaban soal yang
terkait dengan stimulus/bacaan menggunakan konsep-konsep pengetahuan yang
dimiliki serta menggunakan logika/penalaran. Jawaban yang benar diberikan skor
1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
b. Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau
ya/tidak)
Soal bentuk pilihan
ganda kompleks bertujuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu
masalah secara komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang
lainnya.Sebagaimana soal pilihan ganda biasa, soal-soal HOTS yang berbentukpilihan ganda kompleks juga memuat stimulus yang
bersumber pada situasi kontekstual.Peserta didik diberikan beberapa pernyataan
yang terkait dengan stilmulus/bacaan, lalu peserta didik diminta memilih
benar/salah atau ya/tidak.Pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut terkait
antara satu dengan yang lainnya.Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah
agar diacak secara random, tidak sistematis mengikuti pola tertentu.Susunan
yang terpola sistematis dapat memberi petunjuk kepada jawaban yang
benar.Apabila peserta didik menjawab benar pada semua pernyataan
yang diberikan diberikan skor 1 atau apabila terdapat kesalahan pada salah satu
pernyataan maka diberi skor 0.
c. Isian singkat atau melengkapi
Soal isian singkat atau melengkapi adalah soal yang menuntut peserta
tes untuk mengisi jawaban singkat dengan cara mengisi kata, frase, angka, atau
simbol. Karakteristik soal isian singkat atau melengkapi adalah sebagai
berikut.
1)
Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya
hanya satu bagian dalam ratio butir soal, dan paling banyak dua bagian supaya
tidak membingungkan siswa.
2)
Jawaban yang dituntut oleh soal harus singkat
dan pasti yaitu berupa kata, frase, angka, simbol, tempat, atau waktu.
Jawaban yang benar diberikan skor 1, dan jawaban
yang salah diberikan skor 0.
d. Jawaban singkat atau pendek
Soal dengan bentuk jawaban singkat atau pendek adalah soal yang
jawabannya berupa kata, kalimat pendek, atau frase terhadap suatu
pertanyaan.Karakteristik soal jawaban singkat adalah sebagai berikut:
1)
Menggunakan kalimat pertanyaan langsung atau
kalimat perintah;
2)
Pertanyaan atau perintah harus jelas, agar
mendapat jawaban yang singkat;
3)
Panjang kata atau kalimat yang harus dijawab
oleh siswa pada semua soal diusahakan relatif sama;
4)
Hindari penggunaan kata, kalimat, atau frase yang diambil langsung
dari buku teks, sebab akan mendorong siswa untuk sekadar mengingat atau
menghafal apa yang tertulis
dibuku.
Setiap langkah/kata kunci yang dijawab benar
diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
e. Uraian
Soal bentuk uraian adalah suatu soal yang
jawabannya menuntut siswa untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang
telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan
tersebut menggunakan kalimatnya sendiri dalam bentuk tertulis.
Dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal
harus mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan
lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian
jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa. Dengan kata lain, ruang lingkup ini
menunjukkan kriteria luas atau sempitnya masalah yang ditanyakan. Di samping
itu, ruang lingkup tersebut harus tegas dan jelas tergambar dalam rumusan
soalnya.
Dengan adanya batasan sebagai ruang lingkup
soal, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari. Ruang lingkup
tersebut juga akan membantu mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman
penskoran.
Untuk melakukan penskoran, penulis soal dapat
menggunakan rubrik atau pedoman penskoran. Setiap langkah atau kata kunci yang dijawab
benar oleh peserta didik diberi skor 1, sedangkan yang salah diberi skor 0.
Dalam sebuah soal kemungkinan banyaknya kata kunci atau langkah-langkah
penyelesaian soal lebih dari satu.Sehingga skor untuk sebuah soal bentuk uraian
dapat dilakukan dengan menjumlahkan skor tiap langkah atau kata kunci yang dijawab
benar oleh peserta didik.
Untuk penilaian yang dilakukan oleh sekolah
seperti Ujian Sekolah (US) bentuk soal HOTS yang disarankan cukup 2 saja, yaitu
bentuk pilihan ganda dan uraian.Pemilihan bentuk soal itu disebabkan jumlah
peserta US umumnya cukup banyak, sedangkan penskoran harus secepatnya dilakukan
dan diumumkan hasilnya.Sehingga bentuk soal yang paling memungkinkan adalah
soal bentuk pilihan ganda dan uraian.Sedangkan untuk penilaian harian, dapat
disesuaikan dengan karakteristik KD dan kreativitas guru mata pelajaran.
Pemilihan
bentuk soal hendaknya dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian yaitu assessment
of learning, assessment for learning, dan assessment as learning. Masing-masing
guru mata pelajaran hendaknya kreatif mengembangkan soal-soal HOTS sesuai
dengan KI-KD yang memungkinkan dalam mata pelajaran yang diampunya.Wawasan guru
terhadap isu-isu global, keterampilan memilih stimulus soal, serta kemampuan
memilih kompetensi yang diuji, merupakan aspek-aspek penting yang harus
diperhatikan oleh guru, agar dapat menghasilkan butir-butir soal yang bermutu
C. Level Kognitif
Anderson
& Krathwohl (2001) mengklasifikasikandimensi prosesberpikir sebagai
berikut.
Tabel
2.2 Dimensi Proses Berpikir

•
Mengkreasi ide/gagasan sendiri.
Mengkreasi •
Kata kerja: mengkonstruksi, desain, kreasi, mengembangkan,
menulis, memformulasikan.
|
|
|
|
|
|
|
|
• Mengambil
keputusan sendiri.
|
|
|
|
|
|
HOTS
|
|
|
Mengevaluasi
|
|
|
•
Kata kerja: evaluasi, menilai, menyanggah, memutuskan,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
memilih,
mendukung.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menganalisis
|
|
|
• Menspesifikasi
aspek-aspek/elemen.
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
•
Kata kerja: membandingkan, memeriksa, , mengkritisi, menguji.
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS
Untuk menulis butir soal HOTS, penulis soal dituntut untuk dapat menentukan perilaku yang
hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan
(stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan.
Selain itu uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran tinggi)
tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan
soal HOTS, dibutuhkan penguasaan
materi ajar, keterampilan dalam menulis soal (kontruksi soal), dan kreativitas
guru dalam memilih stimulus soal sesuai dengan situasi dan kondisi daerah di
sekitar satuan pendidikan.Berikut dipaparkan langkah-langkah penyusunan
soal-soal HOTS.
1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Terlebih dahulu guru-guru memilih KD yang
dapat dibuatkan soal-soal HOTS.Tidak
semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS.Guru-guru
secara mandiri atau melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD
yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.
2. Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru
dalam menulis butir soal HOTS. Secara
umum, kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: (a) memilih KD
yang dapat dibuat soal-soal HOTS, (b)
memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, (c) merumuskan
indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.
3. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang digunakan hendaknya menarik,
artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik
umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus
kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan
sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca.Dalam konteks Ujian
Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah
setempat.
4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan
kisi-kisi soal
Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan
kaidah penulisan butir soal HOTS.Kaidah
penulisan butir soal HOTS, agak
berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak
pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama.
Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.
5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci
jawaban
Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya
dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat
untuk bentuk soal uraian.Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal
pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian
singkat.
PERAN SOAL HOTS DALAM
PENILAIAN
Penilaian adalah
proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil
belajar peserta didik. Penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan
pendidikan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik,
penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian hasil belajar
oleh Pemerintah.Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau
dan mengevaluasi proses,kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta
didik secara berkesinambungan.
Soal-soal HOTS bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat
tinggi.Dalam melakukan Penilaian, guru dapat menyisipkan beberapa butir soal
HOTS. Berikut dipaparkan beberapa peran soal-soal HOTS dalam meningkatkan mutu
Penilaian.
1.
Mempersiapkan kompetensi peserta didik
menyongsong abad ke-21
2.
Memupuk rasa cinta danpeduli terhadap kemajuan
daerah
3. Meningkatkan
motivasi belajar peserta didik
4. Meningkatkan
mutu Penilaian
IMPLEMENTASI PENYUSUNAN SOAL HOTS
Penyusunan soal-soal HOTS di
tingkat satuan pendidikan dapat diimplementasikan dalam bentuk kegiatan sebagai
berikut.
1.
Kepala sekolah memberikan arahan teknis kepada
guru-guru/MGMPsekolah tentang strategi penyusunan soal-soal HOTS yang mencakup:
a.
Menganalisis KD yang dapat dibuatkan soal-soal
HOTS;
b.
Menyusunkisi-kisi soal HOTS;
c.
Menulisbutir soalHOTS;
d.
Membuat pedoman penilaianHOTS;
e.
Menelaah dan memperbaiki butir soal HOT;
f.
Menggunakan beberapa soal HOTS dalam Penilaian.
2.
Wakasek kurikulum dan Tim Pengembang Kurikulum
Sekolah menyusun rencana kegiatan untuk masing-masing MGMP sekolah yang memuat
antara lain uraian kegiatan, sasaran/hasil,
pelaksana,
jadwal pelaksanaan kegiatan.Kepala sekolah menetapkan dan menandatangani
rencana kegiatan dan rambu-rambu tentang penyusunan soal-soal HOTS
3.
Kepala sekolah menugaskan guru/MGMP sekolah
melaksanakan kegiatan sesuai rencana kegiatan;
4.
Guru/MGMP sekolah melaksanakan kegiatan sesuai
penugasan darikepala sekolah;
5.
Kepala sekolah dan wakasek kurikulum melakukan
evaluasi terhadap hasil penugasan kepada guru/MGMP sekolah;
6.
Kepala sekolah mengadministrasikan hasil kerja
penugasan guru/MGMP sekolah, sebagai bukti fisik kegiatan penyusunan soal-soal HOTS.
PERMASALAHAN : Seperti yang telah jelaskan
Adapun karakteristik dari HOTS sebagai berikut:
Adapun karakteristik dari HOTS sebagai berikut:
1. Mengukur
kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek
ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, menciptakan
metode baru, mereflksi, memprediksi, berargumen, mengambil
keputusan yang tepat;
2. Berbasis
permasalahan kontekstual;
3. Menggunakan
bentuk soal beragam.
Dari pernyataan tersebut saya ingin bertanya,seperti yang kita tahu bahwa tidak semua siswa memiliki kecerdasan tinggi atau HOTS. ada siswa yang LOTS. jika kita membuat suatu penilaian khususnya disini penilaian HOTS,bagaimanakah nantinya untuk siswa yang LOTS ? Adakah cara yang bisa dilakukan sehingga siswa yang awalnya LOTS menjadi HOTS sehingga penilaian HOTS yang telah disiapkan tersebut dapat menilai HOTS siswa dengan baik ?
pada umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
BalasHapusKemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.
sebaiknya Soal-soal HOTS disusun dengan berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply)dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.
Sebagai guru harus mampu membimbing siswa untuk mampu berfikir kritis dan cerdas berada pada level HOTS. Guru dalam menulis soal-soal HOTS pada dasarnya adalah hal yang baik, tetapi hal ini harus diawali dengan pembelajaran yang HOTS juga, karena akan terasa ganjil mana kala pembelajarannya biasa-biasanya saja, tetapi guru tiba-tiba memberikan soal-soal HOTS pada saat penilaian hasil belajar siswa. Dengan demikian, penilaian HOTS harus diawali atau didasari oleh pembelajaran yang HOTS.
BalasHapusKemampuan guru dalam menyusun skenario pembelajaran dan penilaian HOTS harus sama-sama ditingkatkan. Forum ilmiah seperti diklat, workshop, atau kegiatan di KKG/MGMP menjadi sarana yang sangat strategis untuk mewujudkannya. Pada kegiatan tersebut disamping para guru mendapatkan wawasan baru dari pakar, juga dapat berdiskusi, sekaligus praktek menerapkan pembelajaran dan penilaian HOTS. Stimulus yang diberikan pada soal HOTS harus relevan dengan soal HOTS sehingga siswa mampu memberikan jawaban yang tepat.
soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
BalasHapusKemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas.
jika terdapat siswa yang belum mampu mengerjakan soal HOTS maka kita sebagai guru harus mampu membimbing siswa kita secara perlahan-perlahan dan terus menerus di latih kemampuan metakognitifnya sehingga lama kelamaan siswa yang LOTS akan terbiasa mengerjakan soal-soal HOTS. Maka dengan demikian siswa akan terbiasa mengerjakan soal HOTS
menurut saya sebagai guru harus mampu membimbing siswa untuk mampu berfikir kritis dan cerdas berada pada level HOTS. Guru dalam menulis soal-soal HOTS pada dasarnya adalah hal yang baik, tetapi hal ini harus diawali dengan pembelajaran yang HOTS juga, karena akan terasa ganjil mana kala pembelajarannya biasa-biasanya saja, tetapi guru tiba-tiba memberikan soal-soal HOTS pada saat penilaian hasil belajar siswa. Dengan demikian, penilaian HOTS harus diawali atau didasari oleh pembelajaran yang HOTS. dengan demikian siswa yang belum mampu mengerjakan soal HOTS perlahan-lahan akan terbiasa dengan pembelajaran dengan masalah-masalah yang HOTS dan akan mamapu mengerjakannya.
BalasHapusPada prakteknya, penerapan pembelajaran HOTS bukan hal yang mudah dilaksanakan oleh guru. Disamping guru harus benar-benar menguasai materi dan strategi pembelajaran, guru pun dihadapkan pada tantangan dengan lingkungan siswa yang diajarnya. Kadang guru sudah merasa berbuat maksimal agar kegiatan pembelajaran menarik, tetapi respon para siswa tetap saja dingin, dan relatif pasif. Jadi penilaian HOTS harus diawali atau didasari oleh pembelajaran yang HOTS. dengan demikian siswa yang LOTS yang belum mampu mengerjakan soal HOTS perlahan-lahan akan terbiasa dengan pembelajaran dengan masalah-masalah yang HOTS dan akan mamapu mengerjakannya.
BalasHapussoal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
BalasHapusKemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. penilaian HOTS harus diawali atau didasari oleh pembelajaran yang HOTS pula.Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas.
Semua siswa dapat berpikir, tetapi kebanyakan dari siswa membutuhkan dorongan dan bimbingan untuk proses berpikir tingkat tinggi. jika terdapat siswa yang belum mampu mengerjakan soal HOTS maka kita sebagai guru harus mampu membimbing siswa kita secara perlahan-perlahan dan terus menerus di latih kemampuan metakognitifnya sehingga lama kelamaan siswa yang LOTS akan terbiasa mengerjakan soal-soal HOTS.
didalam pembelajaran memang keadaan siswa sering ditemui memiliki kemampuan berbeda-beda. ada yang LOTS ada yang HOTS. dimana kit ketahui bahwa penyebabnya ada dua dari diri siswa sendiri maupun dari segi pembelajaran oleh guru. agar siswa yang LOTS dapan memiliki HOTS yaitu dengan cara melatih dan pembiasan dikelas. siswa dibiasakan belajar berfikir, dengan sesuatu yang menarik bagi mereka. karena biasanya sebelum guru membuat soal tentu guru dapat menebak soal itu kira-kira bisa dijawab atau tidak. maka patokannnya jangan pada siswa yang kemampuannya rendah, tetapi sebaiknya membuat soal yang berada dikisaran siswa rata-rata atau sedang, sehingga soal ini kiranya dapat dijawab oleh siswa yang pintar namun juga bisa dijangkau oleh siswa yang berkemampuan rendah.
BalasHapusuntuk mengatasi adanya kesenjangan antara siswa yang berpikir LOWS dan HOTS, maka sebelum guru membuat penilaian terlebih dahulu guru merencanakan pembelajaran. pembelajaran yang direncanakan hendaknya mengacu pada karakteristik siswanya juga sehingga pendidik bisa menentukan strategi/model/pendekatan apa yang sesuai untuk diterapkan ke siswa agar hasil capaian kompetensinya bisa terpenuhi dan relatif sama contohnya untuk memenuhi kriteria HOTS, guru menggunakan pendekatan saintifik
BalasHapusKemampuan berpikir tingkat tinggi pada dasarnya dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga harus mampu memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.
BalasHapussebaiknya Soal-soal HOTS disusun dengan berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.
Untuk menulis butir soal HOTS, penulis soal dituntut untuk dapat menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan (stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Selain itu uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran tinggi) tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan soal HOTS, dibutuhkan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal (kontruksi soal), dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal sesuai dengan situasi dan kondisi daerah di sekitar satuan pendidikan.Berikut dipaparkan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS.
BalasHapus1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Terlebih dahulu guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.Tidak semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS.Guru-guru secara mandiri atau melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.
2. Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru dalam menulis butir soal HOTS. Secara umum, kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: (a) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS, (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, (c) merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.
3. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca.Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.
4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS.Kaidah penulisan butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.
5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.