MERANCANG PENILAIAN AUNTENTIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Penilaian kemajuan
belajar/keterampilan abad 21 meliputi KWHLAG,yaitu : what do i know, what do i
want know, how do i find out, what have i learn, what action will i take, what
new question do i have. Belaajr dapat diartikan sebagai interaksi sosial yang
menghasilkan keterampilan berkreasi, berkolaborasi, berkomunikasi, dan
berimprovisasi.
Penilaian
autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara
signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan,
dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian,
pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari
asli, nyata, valid, atau reliabel. Secara konseptual penilaian autentik lebih
bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar
sekali pun. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan
prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan
konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi
luar sekolah.
Salah satu penekanan di dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik.
Seperti yang kita ketahui penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data
yang memberikan gambaran mengenai perkembangan siswa setelah siswa mengalami
proses pembelajaran. Penilaian autentik adalah kegiatan menilai peserta didik
yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil
dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi
yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi
Dasar (KD) (Kunandar,2013:35-36).
Pada penilaian autentik, siswa diminta untuk menerapkan konsep atau teori
dalam keadaan sebenarnya sesuai dengan kemampuan atau keterampilan yang
dimiliki siswa. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan keseimbangan antara
penilaian kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang disesuaikan
dengan perkembangan karakteristik siswa sesuai dengan jenjangnya. Contohnya
untuk PAUD, TK dan SD, lebih banyak porsinya pada soft skill (misalnya kemampuan
yang perlu dilatih dan diukur, antara lain: mengamati, motivasi berprestasi,
kemauan kerja keras, disiplin, berkomunikasi, tata krama, dll) daripada
penilaian hard skill (pengukuran penguasaan pengetahuan dan keterampilan).
Berikut adalah ciri-ciri penilaian autentik:
a. Mengukur semua
aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk.
b. Dilaksanakan selama
dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
c. Menggunakan
berbagai cara dan sumber.
d. Tes hanya salah satu
alat pengumpulan data penilaian.
e. Tugas-tugas
yang diberikan mencerminkan bagian-bagian kehidupan nyata setiap hari.
f. Penilaian harus
menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian, bukan keluasannya (kuantitas).
Sedangkan karakteristik
penilaian autentik, adalah sebagai berikut:
a. Bisa digunakan
untuk formatif maupun sumatif, pencapaian kompetensi terhadap satu kompetensi
dasar (formatif) maupun pencapaian terhadap standar kompetensi atau kompetensi
inti dalam satu semester (sumatif).
b. Mengukur keterampilan
dan performansi, bukan mengingat fakta, menekankan pencapaian kompetensi
keterampilan (skill) dan kinerja (performance), bukan kompetensi yang sifatnya
hafalan dan ingatan.
c. Berkesinambungan
dan terintegrasi, merupakan satu kesatuan secara utuh sebagai alat untuk
mengumpulkan informasi terhadap pencapaian kompetensi siswa.
d. Dapat digunakan
sebagai feed back, dapat digunakan sebagai umpan balik terhadap pencapaian
kompetensi siswa secara komprehensif.
Berdasarkan ciri-ciri dan
karakteristik penilaian autentik di atas, maka proses penilaian harus merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran dan mencerminkan masalah
dunia nyata/sehari-hari. Sehingga dalam merancang penilaian autentik, perlu
memperhatikan prinsip-prinsip, sebagai berikut: penilaian harus menggunakan
berbagai ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan
esensi pengalaman belajar; penilaian harus bersifat holistik mencakup semua
aspek dari tujuan pembelajaran (sikap, keterampilan dan pengetahuan).
PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Penilaian
autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai
mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi
domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik menilai
kesiapan peserta didik, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan
penilaian ketiga komponen (input – proses – output) tersebut akan menggambarkan
kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta didik, bahkan mampu menghasilkan
dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant
effect) dari pembelajaran.
Kimia
merupakan salah satu mata pelajaran yang ada pada struktur kurikulum 2013, oleh
sebab itu penilaian hasil belajar Kimia harus dikembangkan sesuai dengan konsep
penilaian Kurikulum 2013, yaitu penilaian autentik yang mencakup domain sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang harus dicapai peserta didik secara terpadu.
Penilaian autentik memiliki
relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam
pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Penilaian autentik mampu
menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka
mengamati/mengobservasi, menanya, mencoba, menalar, membangun jejaring atau
mengomunikasikan. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks
atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi
mereka yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Penilaian
autentik disebut juga penilaian responsif, suatu metode untuk menilai proses
dan hasil belajar peserta didik yang memiliki ciri-ciri khusus, mulai dari
mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus,
hingga yang jenius. Penilaian autentik dapat diterapkan dalam berbagai bidang
ilmu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi utamanya
pada proses dan hasil pembelajaran.
Implementasi penilaian
autentik didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut;
1. Proses penilaian harus
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian
terpisah dari proses pembelajaran (apart of,not apart from instruction),
2. Penilaian harus
mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia
sekolah (schoolwork-kind of problems),
3. Penilaian harus menggunakan
berbagai ukuran, metoda dan criteria yang sesuai dengan karakteristik dan
esensi pengalaman belajar,
4. Penilaian harus bersifat
holistic yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (sikap,
keterampilan, dan pengetahuan).
Hasil penilaian autentik dapat
digunakan oleh pendidik untuk merencanakan program perbaikan (remedial),
pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Selain itu, hasil penilaian
autentik dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran
yang memenuhi Standar Penilaian Pendidikan.
1. Penilaian
Sikap
Dalam Kurikulum 2013, kompetensi sikap meliputi sikap spiritual dan sikap
sosial. Penilaian kompetensi sikap dapat dilakukan melalui pengamatan
(observasi), jurnal, penilaian diri, atau penilaian antar teman.
Pengamatan dapat menggunakan lembar pengamatan dalam bentuk daftar cek atau skala
penilaian, dilakukan pada saat aktivitas pembelajaran berlangsung. Pengamatan
sikap dalam Kimia misalnya kerjasamadan santun dapat dilakukan pada kegiatan
kerja kelompok. Sedangkan pengamatan sikap disiplin, jujur, mampu membedakan
fakta dan opini, serta teliti dapat dilakukan saat melakukan percobaan
(eksperimen) Kimia.
Jurnal adalah catatan pendidik yang sistematis di dalam dan di luar kelas yang
berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik
berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal yang dibuat oleh guru dapat berisi
perilaku peserta didik baik yang positif maupun negatif, dilengkapi dengan
waktu terjadinya perilaku tersebut. Jurnal dapat memuat penilaian terhadap
peserta didik pada aspek tertentu secara kronologis.
Contoh jurnal yang dibuat oleh
guru Kimia kelas X:
No
|
Waktu
|
Nama Peserta Didik
|
Kejadian / Perilaku
|
Tindak lanjut
|
1
|
Selasa,
25 Maret 2014
Pkl. 08.15
|
A
|
Melaporkan bahwa dia
memecahkan gelas kimia pada waktu praktik di laboratorium
|
Diberikan apresiasi karena
kejujurannya
|
2
|
Rabu,
26 Maret 2014
Pkl. 10.10
|
BI
|
Meninggalkan laboratorium
setelah praktikum, tanpa membersihkan meja dan alat-alat yang sudah digunakan
|
Dipanggil untuk membersihkan
meja praktikum dan alat- alat yang sudah digunakan, serta diberi pembinaan
|
2. Penilaian
Pengetahuan
Kompetensi siswa
pada aspek pengetahuan dapat diukur melalui tes dan nontes. Bentuk tes yang
digunakan antara lain adalah tes tertulis (uraian, pilihan ganda, isian, benar
salah, dll), tes lisan, dan/atau tes praktik. Sedangkan, bentuk nontes dapat
dilakukan melalui tugas-tugas yang diberikan, baik tugas menjawab soal, atau
tugas membuat laporan tertulis.
Tes Tertulis
Penilaian tertulis
atas hasil pembelajaran kimia tetap lazim dilakukan. Tes tertulis dapat berupa
memilih atau mengisi jawaban. . Memilih jawaban dapat berbentuk pilihan ganda,
pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Mengisi jawaban
terdiri atas isian/ melengkapi, jawaban singkat/ pendek, dan uraian. Butir soal
yang disusun harus memenuhi kaidah penulisan butir soal yang meliputi
substansi/materi, konstruksi, dan bahasa.
Tes tertulis
berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami,
mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan
sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian
sebisa mungkin bersifat komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap,
keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Pada tes tertulis berbentuk
uraian, hendaknya guru Kimia memberi kesempatan peserta didik untuk memberikan
jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya, namun tetap terbuka
memperoleh nilai yang sama. Tes tertulis berbentuk uraian pada mata pelajaran
Kimia biasanya menuntut dua jenis pola jawaban, yaitu jawaban terbuka
(extended-response) atau jawaban terbatas (restricted-response). Hal ini sangat
tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Tes semacam ini memberi
kesempatan pada pendidik untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada
tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks.
Tes Lisan
Tes lisan dalam pembelajaran
kimia adalah tes yang menuntut peserta didik memberikan jawaban secara lisan.
Meskipun jawabannya secara lisan bukan berarti bahwa pertanyaan yang diajukan
hanya menyangkut tingkat berpikir rendah (low order thinking), tetapi dapat
juga diajukan pertanyaan yang menuntut penalaran dan berpikir kritis. Oleh
karena itu dalam melaksanakan tes lisan, guru Kimia perlu menyiapkan daftar
pertanyaan yang disampaikan melalui tanya jawab secara langsung dengan peserta didik.
Kriteria tes lisan dalam pembelajaran kimia adalah sebagai berikut:
- Tes lisan dapat digunakan jika sesuai dengan kompetensi pada taraf pengetahuan yang hendak dinilai;
- Pertanyaan tidak boleh keluar dari bahan ajar yang ada;
- Pertanyaan diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam mengkontruksi jawabannya sendiri;
- Disusun dari pertanyaan yang sederhana ke pertanyaan yang komplek.
Contoh pertanyaan pada tes
lisan:
a. Bagaimana cara memberi nama senyawa hidrokarbon?
b. Senyawa apa yang terbentuk pada reaksi pembakaran hidro karbon
Penugasan
Instrumen penugasan dapat
berupa pekerjaan rumah dan/atau proyek yang harus dikerjakan oleh peserta
didik, baik secara individu atau kelompok, sesuai dengan karakteristik tugas.
Contoh tugas Kimia:”Membuat bahan presentasi mengenai bahan bakar alternatif
selain minyak bumi dan gas alam”.
3. Penilaian Keterampilan
Ada dua ranah
keterampilan yang dapat dikembangkan sesuai dengan kompetensi lulusan tingkat
SMA yang diharapkan, yaitu ranah abstrak dan ranah konkret. Pada ranah abstrak
cenderung pada keterampilan seperti menyaji,
mengolah, menalar, dan mencipta dengan dominan pada kemampuan mental (berpikir)
tanpa bantuan alat. Sedangkan untuk ranah konkret cenderung pada kemampuan
fisik seperti menggunakan alat, mencoba, membuat, memodifikasi, dan mencipta
dengan bantuan alat. Penilaian aspek keterampilan dapat dilakukan melalui tes
praktik, proyek, atau portofolio.
Tes Praktik
Tes praktik dilakukan dengan
mengamati kegiatan peserta didik pada waktu melakukan praktik Kimia. Dalam tes
praktik perlu dibuat rubrik penilaian, yaitu daftar kriteria yang menunjukkan
kinerja dan aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai, dan gradasi mutu.
Penilaian digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta
didik melakukan praktik di laboratorium, misalnya praktik mengenai “Daya hantar
listrik pada berbagai larutan”.
Contoh rubrik penilaiannya
sebagai berikut:
NO
|
ASPEK YANG
DINILAI
|
PENILAIAN
|
||
1
|
2
|
3
|
||
1
|
Merangkai alat
|
Rangkaian alat tidak benar
|
Rangkaian alat benar, tapi
tidak rapi
|
Rangkaian alat benar dan
rapi
|
2
|
Pengamatan
|
Pengamatan tidak cermat
|
Pengamatan cermat tetapi
mengandung interpretasi
|
Pengamatan cermat dan tidak
mengandung interpretasi
|
3
|
Data yang diperoleh
|
Data tidak lengkap
|
Data lengkap, tetapi tidak
terorganisir atau ada yang salah tulis
|
Data lengkap, terorganisir,
dan ditulis dengan benar
|
4
|
Kesimpulan
|
Tidak benar atau tidak
sesuai tujuan
|
Sebagian kesimpulan ada yang
salah atau tidak sesuai tujuan
|
Semua benar atau sesuai
tujuan
|
Penilaian Proyek
Penilaian
proyek (project based assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas
yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu.
Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta
didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan,
analisis, dan penyajian data. Dengan demikian, penilaian proyek dapat mengukur
pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain.
Selama
mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik memperoleh kesempatan
untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Karena itu, pada
setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian
khusus dari pendidik.
a) Keterampilan
peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan
menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
b) Kesesuaian
atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
c) Keaslian
sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
Penilaian
proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan dan hasil proyek. Dalam kaitan ini
kegiatan yang harus dilakukan oleh pendidik meliputi penyusunan rancangan dan
instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan.
Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus.
Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan
bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. Penilaian secara analitik
merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk
tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara
keseluruhan atas produk yang dihasilkan.Contoh tugas proyek Kimia: “Membuat
bahan bakar alternatif Naskah Pembelajaran Kimia selain minyak bumi dan gas
alam dari bahan-bahan yang terdapat di lingkungan sekitar peserta didik”.
Penilaian Portofolio
Penilaian
portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan
informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu
periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari
proses pembelajaran yang dianggap terbaik, atau informasi lain yang relevan
dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut oleh topik mata pelajaran
Kimia. Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara
individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Penilaian
terutama dilakukan oleh pendidik, meski dapat juga oleh peserta didik sendiri.
Melalui
penilaian portofolio guru Kimia akan mengetahui perkembangan atau kemajuan
belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya peserta didik dalam menyusun atau
membuat laporan praktikum Kimia selama satu semester.. Atas dasar penilaian
itu, pendidik dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan
tuntutan pembelajaran Kimia.
Penilaian portofolio dilakukan
dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
a) Pendidik
menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
b) Pendidik
atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
c) Peserta
didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan pendidik
menyusun portofolio pembelajaran.
d) Pendidik
menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai,
disertai catatan tanggal pengumpulannya.
e) Pendidik
menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
f) Jika
memungkinkan, pendidik bersama peserta didik membahas bersama dokumen
portofolio yang dihasilkan.
g) Pendidik
memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.
Contoh penilaian portofolio :
1. Ruang lingkup :
a) Karya
portofolio yang dikumpulkan adalah seluruh hasil laporan praktikum Kimia kelas
X semester 2.
b) Setiap
laporan hasil praktikum dikumpulkan selambat-lambatnya satu minggu setelah
peserta didik melaksanakan praktikum.
c) Penilaian
karya portofolio terpilih dilaksanakan satu minggu sebelum Ulangan Akhir
Semester 2
2. Uraian tugas portofolio :
a) Buatlah
laporan praktikum Kimia untuk seluruh kegiatan praktikum selama semester 2.
b) Penilaian
laporan praktikum meliputi: persiapan, pelaksanaan, dan hasil praktik.
c) Pilihlah
(peserta didik bersama guru) tiga karya portofolio terbaik untuk dinilai.
PERMASALAHAN
Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang
bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan,
dan pengetahuan. Bentuk penilaian otentik yaitu dapat berbentuk: Tes lisan, penilaian kinerja
kelompok, penilaian kinerja individual, wawancara, observasi, portofolio,
proyek, dan pameran. Dari semua bentuk penilaian otentik yang ada, penilaian otentik manakah yang
paling baik dalam menilai semua hasil bbelajar peserta didik baik untuk
ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan ? Berikan alasan !
Menurut saya setiap ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan itu sudah ada pembagian nya masing-masing. Untuk penilaian kognitif bisa dilakukan secara tertulis dan lisan dengan bentuk penilaian berupa rubrik, untuk afektif atau sikap ada 4 bentuk penilaian yaitu lembar observasi penilaian sikap, penilaian diri (self assesment), penilaiain teman sebaya (peer assesment) dan jurnal. Sedangkan untuk penilaian psikomotor bisa dilakukan dari performance based atau lembar observasi untuk penilaian psikomotor, bisa juga dari portofolio dan angket project atau produk.
BalasHapusSemua bentuk penilaian itu baik dilakukan hanya saja disini guru yang akan menyesuaikannya dengan materi yang diajarkan.
Untuk kognitif bisa dilakukan secara tertulis dan lisan dengan bentuk penilaian berupa rubrik,
BalasHapusuntuk afektif atau sikap dapat berupa lembar observasi penilaian sikap, penilaian diri (self assesment), penilaiain teman sebaya (peer assesment) dan jurnal. Sedangkan
untuk penilaian psikomotor bisa dilakukan dari performance based atau lembar observasi untuk penilaian psikomotor.
penilaian terbaik dilakukan sesuai dengan karakteristik materi dan pembelajaran. untuk kognitif lebih baik diarahkan kepada soal tertulis, untuk psikomotor diarahkan ke lembar observasi kinerja dan portofolio, untuk afektif bisa mengikuti model pembelajaran yang digunakan biasanya menggunakan lembar observasi
BalasHapusmenurut saya semua penilaian otentik ini memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam menilai ketiga ranah hasil belajar peserta didik, hanya saja yang paling sering digunakan ialah observasi dan portofolio
BalasHapuspenilaian terbaik dilakukan sesuai dengan karakteristik materi dan pembelajaran. untuk kognitif lebih baik diarahkan kepada soal tertulis, untuk psikomotor diarahkan ke lembar observasi kinerja dan portofolio, untuk afektif bisa mengikuti model pembelajaran yang digunakan biasanya menggunakan lembar observas
BalasHapussetiap ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan itu sudah ada pembagian nya masing-masing. Untuk penilaian kognitif bisa dilakukan secara tertulis dan lisan dengan bentuk penilaian berupa rubrik, untuk afektif atau sikap ada 4 bentuk penilaian yaitu lembar observasi penilaian sikap, penilaian diri (self assesment), penilaiain teman sebaya (peer assesment) dan jurnal. menurut saya penilaian terbaik dilakukan sesuai dengan karakteristik materi dan pembelajaran.
BalasHapusPenilaian kognitif dilakukan untuk menfukur pengetahuan siswa sehingga cara yang tepat dengan menggunakan tes lisan dan tes tertulis.
BalasHapusPenilaian Afektif sikap dilakukan dengan 4 cara:
1. Lembar observasi
2. Self Assesment
3. Peer Assesment
4. Jurnal
Penilaian psikomotorik (keterampilan) melalui :
1. Observasi Performance
2. Portofolio
3. Produk
4. Projek.
Penilaian dilakukan sesuai dengan kerakteristik materi pelajaran dan kebutuhan penilaian.